Saya tidak akan mengeluhkan jerawat saya yang lagi kambuh. Saya hanya akan bercerita tentang perjalanan saya mengatasi masalah jerawat yang sampai sekarang tak kunjung selesai. Saya juga tidak mempunyai solusi yang valid mengenai memecahkan masalah jerawat karena saya pun belum terbebas dari jerawat.
Janganlah berasumsi bahwa orang yang berjerawat itu gak rajin cuci muka, karena saya adalah orang yang sangat rajin cuci muka, tetapi tetap berjerawat. Kadang saya merasa kesal jika disarankan untuk cuci muka. Cuci muka bukanlah satu-satunya faktor penyebab jerawat cuy. Hormon, tipe kulit yang berminyak, dan keadaan emosi juga berpengaruh. Saya adalah salah satu orang yang diberi kesempatan untuk merasakan suatu fenomena jerawat.
Jerawat pertama saya muncul di kening saya pada saat saya kelas 7, yaitu kelas 1 SMP. Tidak lama setelah kemunculan jerawat tersebut, kening saya menjadi tempat berlabuh jerawat yang paling disukai oleh para jerawat. Saya tidak begitu memperhatikan jerawat saya sampai Ayah saya berkata bahwa jerawat saya sudah kelewat banyak, sehingga saya dianjurkan untuk pergi ke dokter kulit.
Pengalaman di dokter kulit adalah pengalaman yang membuat saya lebih memahami istilah beauty hurts. Jerawat besar saya, disuntik. Memang setelah itu jerawat saya langsung hilang tidak meninggalkan bekas, tetapi perlu perjuangan dalam menghilangkannya karena jerawat saya tidaklah sedikit. Setiap kali saya kesana, saya selalu meneteskan air mata. Sesakit itu. Setelah selesai dari dokter saya pasti diberi resep serta obat cuci muka.
Selama SMP saya hanya berjerawat pada daerah kening saja. Pada saat di sekolah, saya berusaha menutupinya dengan kerudung saya. Jadi tidaklah heran kalau pada waktu SMP saya memakai kerudung dengan sangat aneh. Saya merasa tidak terganggu dengan keberadaan jerawat saya, karena tidak sering terlihat oleh orang lain.
Dengan pemakaian obat yang rutin serta mencuci wajah dengan rajin, akhirnya saya terbebas dari jerawat. Jerawat akut saya dibantu oleh pemakaian obat keras bernama ro-accutane. Ro-accutane ini sama dengan accutane. Accutane hanya nama lainnya yang dipakai di Amerika, selain Amerika memakai nama ro-accutane. Obat ini adalah semacam obat yang akan menghilangkan seluruh minyak dari wajah, sehingga wajah menjadi sangat kering. Kadang sampai kulit wajah terkelupas. Obat ini digolongkan obat keras karena banyak efek samping yang ditimbulkan, salah satunya merusak janin. Tetapi berhubung saya masih SMP dan tidak mengandung, maka saya diperbolehkan. Berkat obat itu, muka saya terlihat sangat mulus tidak ada satupun jerawat. Jangka waktu sembuhnya juga sangat cepat. Ini terjadi pada waktu saya kelas 2 SMP. Tetapi, pada saat menjelang Ujian Nasional jerawat itupun kambuh lagi. Untungnya jerawat tersebut datang dalam jumlah yang tidak sebanyak dulu. Lalu pada saat saya liburan kenaikan kelas ke SMA, muka saya terbebas dari jerawat untuk kedua kalinya.
Kebeningan wajah saya berlangsung cukup lama sampai pada saat kelas 2 SMA. Tiba-tiba jerawat muncul lagi. Saya panik akan adanya wabah jerawat lagi. Saya sangat tidak menginginkannya dan tidak mau melakukan rutinitas suntik menyuntik di dokter. Saya sama sekali tidak berhenti melakukan cuci muka setiap hari. Obat dari dokter seperti krim malam memang sudah saya tinggalkan sejak kelulusan SMP. Mungkin itu penyebabnya. Tidak lama setelah itu saya pun bebas jerawat, tanpa minum ro-accutane. Saya hanya memakai obat itu saat pertama kali berjerawat.
Pada saat SMA, saya merasa saya berada di suatu siklus. Siklus dimana saya ada masa berjerawat dan ada masa bebas jerawat. Saya juga tidak tau pasti apa penyebabnya. Apakah karena saya pake krimnya males-malesan dan kadang bolong. Apakah karena hormon saya lagi pengen aja gitu. Saya lelah dengan segala masalah jerawat yang hilang timbul dan akhirnya saya lepas dari obat krim malam dokter. Saya berasumsi bahwa ini adalah pengaruh hormon saya, jadi tidak ada yang bisa saya lakukan lagi. Sejak saat itu saya tidak pernah mempunyai wajah yang bersih kembali.
Sampai pada waktu kuliah, saya masih dengan siklus tersebut. Dan saya sekarang ada di masa jerawat. Jerawat-jerawat yang muncul sebenarnya tidak separah dan semerah pada waktu pertama kali, jadi saya sangat bersyukur. Dari perjalanan jerawat ini, saya bisa belajar banyak hal, yaitu:
1. Kedisiplinan. Obat jerawat harus digunakan secara rutin agar mencapai hasil yang maksimal.
2. Careless but not too careless. Jerawat mengajarkan kita untuk bodo amat terhadap penampilan, tetapi ga terlalu bodo amat juga(?). Intinya jadi kita tetep percaya diri walaupun ada jerawat, tetapi sambil pelan-pelan mengobatinya.
3. Manusia tidak ada yang sempurna. Jerawat menyadarkan kita bahwa kita tidak boleh sombong atas wajah kita. Semua pemberian Allah SWT.
Sekian dari saya. Saran dari saya adalah jangan bersedih kalian yang berjerawat! la tahzan! semua pasti ada hikmahnya :). Gausah terlalu dipikirin karena kalo kepikiran juga bisa nambah jerawat. Let it happen.
Hanya hiburan semata.
Ridha
Comments
Post a Comment