Skip to main content

Pengalaman mendaki Gunung Pulosari

Hello again!

Jadi hari Sabtu tanggal 8 Juni 2019 kemarin gue mendaki Gunung Pulosari bersama ayah dan sodara2 gue yaitu Popov dan dek Dieter. Gunung ini berada di kawasan Banten, jadi ya 3 jam lah kalo dari Jakarta. Sebenernya gue udah pengen banget daki gunung dari lama, tapi baru ini kesampean. Pengalaman naik gunung gue cuma ke Bromo sama Kawah Ijen. Sebenernya first time gue naik gunung itu waktu kecil, ke Gunung Gede tapi cuma sampe air terjunnya aja hahah, sama Popov & Mas Arik. Mungkin nanti kalo ada fotonya bisa gue selipin disini.

Balik lagi ke yang tadi
Gue berangkat dari rumah abis shalat Subuh, sekitar jam setengah 6 tapi baru berangkat. Sampai disana jam 8. Saat di perjalanan sudah mulai dekat gunung, bisa terlihat gunungnya ternyata lumayan tinggi juga ya (yaiyalah gunung). Kalo kata google kan 1300an mdpl. Tapi kok ya agak tinggi juga ya ternyata.






Nah pas udah sampai di pos awal pendakian, kita ragu karena disitu cuma ada truk truk muatan besar yang parkir. Jadilah Ayah tanya ke mas-mas nongkrong di motornya disana. Setelah ngobrol-ngobrol eh ternyata katanya gunung ini udah lama dilarang untuk didaki. Sekitar satu setengah tahun yang lalu udah ditutup karena katanya ada longsor. Hmmm.. tapi karena Ayah saya yang nekat akhirnya kita tetap akan naik gunung itu!

Mengabaikan mas-mas motor tadi, akhirnya kita parkir di pos pertama itu. Nah di depan posnya itu ada rumah dan sebagai pendatang Ayah pamitan ke pemilik rumah. Eh ternyata pemilik rumah juga berkata sama, mengenai ditutupnya gunung ini untuk pendakian. 

Kalau warga sekitar sini sih udah dilarang untuk naik, tapi kalo bapak mau naik ya kami ga tanggung jawab. Gitu katanya.

Tapi kita tetap menguatkan niat kita untuk naik. Pemilik rumah juga pesen untuk jangan lama-lama kalo misalkan kita jadi naik. Jadilah kita naik dengan berdoa semoga kita selamat sampai tujuan dan pulangnya wkwk

Perlu diketahui bahwa kita ini pendaki amatiran, jadi kita tidak mempersiapkan apa apa. Persiapan gear tidak ada. Gue dan Popov pake sepatu running, dek Dieter pake sepatu futsal kakak, Ayah pake sepatu casual. Masih untung Ayah bawa tongkat 3. Baju kita seadanya. Perbekalan kita dibeli di alfamart di rest area. Cuma beli air minum, coklat, dan roti. Bekal dari rumah bawa nasi dan mie, ultra milk, serta KUE LEBARAN. Bayangin ga sih betapa salah kostumnya. Who in the world would bring kue lebaran ke gunung?? Ya gatau lagi. Udah gitu bawanya pake kresek karena Dek Dieter gamau naro di tas (aneh kan). Jadi kayak bawa banyak tapi rempong dan useless gitu loh sebenernya..

Perjalanan dimulai.
Perjalanan awal kita belum cape, lalu setelah sekitar 10 menit sudah mulai terasa dan setelah itu kita ketemu mas mas nongkrong di pos istirahat. Kata mereka kalo ke curug sih sedikit lagi sampai. ternyata oh ternyata, setelah kita menjalani itu, lumayan lama juga. Jujur ini berat banget, awal perjalanan kok udah cape gitu. Perjalanan dari mulai sampe ke curug sekitar 1 jam. Popov sudah mandi keringat. Kita udah mulai mengurungkan niat untuk meneruskan perjalanan ke puncak. Perjalanan dari bawah sampai ke curug itu lumayan mendaki sih. bukan yang datar-datar flat gitu, pace kita juga sebenernya agak cepet jadi capek. Pas lagi makan bekal dan chill di curug, eh ada bapak-bapak dengan santainya nyampe juga di curug, tanpa ada keringat satu butirpun di mukanya wkwk. Kata bapaknya yaa paling kalo sampe puncak sekitar 5 jam lagi. waw.

Itu dia curugnya, pardon my face. Yang paling kiri itu bapak-bapak tanpa keringat yg tadi gue bilang

Lihat betapa menyedihkannya anak-anak kota yang lemah ini

Perlu diingat bahwa saya besoknya sebenarnya harus sudah pulang ke Surabaya untuk melanjutkan studi saya di Unair. Jadi kita berpikir ulang. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan kita lanjut nanjak sampai kawahnya aja. Karena pas di curug itu juga ngeliat jalannya udah curam banget. Kayak mau mati gitu liatnya. Bayangin udah cape, terus ngeliat jalan selanjutnya itu makin curam, kan kayak ogah gitu kan. Tapi niat kita kuat dan akhirnya melanjutkan sampai ke kawah!

Perjalanan sampai kawah diselingi istirahat beberapa kali di pos yang ada. Perjalanan ini lumayan bisa gue nikmati, mungkin badannya udah terbiasa cape kali ya, atau mungkin badannya udah panas jadi kalo dipake nanjak lagi udah biasa. Ibarat kalo mesin udah panas mungkin jadi lebih lancar. Tapi ya kalo dibilang cape ya capee banget. Cuma kalo dibandingkan awal-awal ya ini mendingan. Ya walaupun rasanya seperti never ending stone. Perjalanannya lumayan curam dari yang awal.

Ga bohong kan gue? beneran mandi kan dia?

Gue heran, Ayah dalam hal mendaki paling depan dan paling cepet, padahal ayah udah umur 65 tahun, gue juga heran kenapa bisa gitu. Gue yang umurnya baru 22 tahun aja ngos-ngosan. Selama perjalanan itu juga akhirnya kan sempet Ayah ga keliatan karena udah jauh di depan, dan di trek itu ada persimpangan-persimpangan yang bikin bingung, jadi gue teriak teriak AYAH! AYAH! INI KANAN APA KIRI??. Gitu terus kalo ada persimpangan. Jadi kayak orang tersesat yah wkwkw. 

Beginilah kira-kira treknya


Akhirnya dengan waktu sekitar 3 jam, SAMPE JUGA. Rasa excited muncul ketika udah bau bau belerang, dan batunya udah mulai warna oren oren. Dan pas liat asep kawah, rasanya OMG LEGA POL. Kayak udah ga cape sama sekali, padahal cuma liat asep kawah loh ya. Bener-bener ilang dan langsung deh disana kita makan sisa perbekalan dan foto fotoo.






Setelah itu kita pulang. Oiya di perjalanan pulang kita menemukan kaki seribu GEDE POL. Panjangnya sekitar botol aqua yang 1literan. See it for yourself

ew kan? iya emang. biggest nope i've ever seen with my own eyes.









Comments

Popular posts from this blog

Kuliah FKG Unair Semester 1, Belajar Apa Sih?

Melihat post lama saya yang barusan dipublish, saya jadi pengen cerita tentang perkuliahan saya di FKG Unair lebih dalam, terutama pada pelajarannya Menurut saya mata kuliah yang dipelajari tidak sesulit waktu SMA, karena saya tidak bertemu lagi dengan matematika dan fisika. Otak saya tidak mampu mengolah pelajaran sebegitu rumit. Sebenarnya fisika lebih mudah dipelajari karena mudah dilogika, tetapi matematika saya angkat tangan. Selain itu, pelajarannya juga masih banyak yang umum, bisa disebut juga MKWU (Mata Kuliah Wajib Umum), seperti pelajaran agama, kewarganegaraan, dan bahasa Indonesia, Saya tidak akan membahas ini. Ada juga pelajaran yang baru saya temui pada saat kuliah, yaitu anatomi, ilmu faal (fisiologi), filsafat ilmu, etika profesi hukum, ilmu material kedokteran gigi, dan problem-based learning. Saya akan bahas satu persatu. Anatomi adalah ilmu tentang bentuk bagian-bagian tubuh. Ini kok bentuknya gini sih? biar apa kok harus ada celah, kok harus ada tonjolan. Pok...

Reasons you should stop cheating

This post is about cheat in terms of cheating on exams :) I wrote this in English because I want to improve my writing skills in English and I'm sorry if my grammar isn't good enough :) Admit it, you must have had a period in your lifetime when you were cheating most of the time. Mine was when I was in junior high school. I can't help but cheat. At that time, it's becoming a habit, a bad one. I usually cheat by asking my friends, making tiny notes on a piece of paper, making some gesture with my friends, and much more. I'm an absolute pro when it comes to cheating. It's so silly when I talk about it now because I was such a fool back then. I made some gestures with my friends like backrest, leaning my body towards right or left, etc. Looking back, it's so ridiculous. I don't really care much about this habit and I just kept doing it. I can't stop cheating until I become friends with Falaha (you can call her Fala). She just changed my whole l...

Appreciation Post

This post is about my appreciation for some of my favorite singer, Brendon Urie and Tori Kelly. Both have an incredible voice. So here they are, Brendon Urie  performing This is Gospel in piano: and Tori Kelly performing Unbreakable Smile, live at the year in Vevo: Hopefully, I can meet them someday :)