Jadi, gue sekarang udah menjalani klinik di RSGM Unair selama kurang lebih 25 minggu lah. Awal gue klinik-Feb 2019-gue bener2 anxious parah sampe jerawat gue udah gak karuan. I'm really nervous because this is the real deal. Gue ngerasa belum siap dan sebagainya. Gue sudah harus berhubungan dengan pasien secara langsung. It's haunting me dari pas gue libur sampe akhirnya masuk klinik hari pertama. It's like my body doesn't want to go but something keeps pushing me forward. Ya, begitulah rasanya. Gue juga jadi bingung, kan memang gue yang memilih FKG sebagai jurusan gue, ini mimpi gue, tapi kenapa ketika perjalanan gue sudah dekat malah gue semakin ragu dan takut. I don't even know.
Semenjak masuk klinik gue juga sering banget ngerasa sedih. Iya, sedihnya sedih banget, apalagi hari-hari menjelang menstruasi. PMS maybe? gue juga ga tau kenapa. Hari-hari klinik di saat itu, bangun tidur terasa berat banget. Beratnya bukan mager loh ya, karena I'm fine now so I know the difference. Sedih yang mendalam gitu, gapaham kenapanya juga. But, throughout the day, the sadness disappear. Selalu kayak gitu dan pas keesokan harinya gue bangun, gue sedih lagi. Gue merasa berada di cycle ini sekitar yaa 1 bulan lebih lah. It's like a rollercoaster that never ends and it sucks. Untungnya sekarang gue stable dan I didn't even know how I escaped that situation. I'm afraid kalo gue di situasi itu lagi dan gue gatau cara keluar dari situ. It's like a blackhole.
Kalo Miles Carter bilang sih, gaada yang namanya "happy person" di dunia ini. In order to grow, we must go through beyond our comfort zone, and it's definitely hard. Happy and sadness is just an emotion. Just like it's name, emotion, it can change. All I can say is I'm grateful for all the ups and downs in my life and I'm happy now. Mungkin sekarang gue lagi di healthy state of mind, dimana gue bisa menjaga mental health untuk berada di safe zone. Apaan yak safe zone, ya pokoknya gue bisa menjaga pikiran gue untuk tetap di area yg sewajarnya. Sedih dan bahagia sewajarnya aja.You know what I mean?
Sejauh ini klinik sudah memberikan gue banyak pelajaran. Now, I can see the brightside. Bener-bener bersyukur malah bisa sampe sejauh ini. It's very hard but it's satisfying if it's done. Ya, 11-12 sama naik gunung lah, tapi gue belum sampe puncak nih sekarang.
Just a reminder, mungkin poin-poin yang akan gue tulis akan bisa membantu:
Life is not a race - Iya. Mau ngapain juga buru-buru? toh kan hidup cuma sekali. If your expectations ga tercapai, yaudah. Yang penting udah usaha semaksimal mungkin, kalo emang belum tercapai mungkin emang bukan jalannya. Rejeki orang kan beda-beda dan udah ada yang ngatur juga. Lagian siapa juga sih yang buat statement kalo lu terlambat itu gagal? kan itu juga cuma statement yang kita buat dan pikirkan. Maybe it's God's plan? and it's definitely for the better.
Respect your patient & respect yourself - Jangan terpacu sama goals diri sendiri. Patient is your number one priority. But that doesn't mean lu gabisa stand up for yourself. Pinter-pinternya kita memposisikan diri kita aja sih. Yang terpenting itu pasien kita rawat sebaik mungkin, tapi jangan lupain keadaan kita juga.
Lower your expectations - Mungkin awal-awal gue menjalani klinik gue sangat terpacu dengan adanya requirements yang sebejibun itu, jadi gue gampang kecewa kalau pasien gue tidak sesuai ekspektasi. Tapi lama kelamaan gue trying to accept dan akhirnya yaudah kalo misalkan terphp. Everything is fine.
Always be grateful - Ini sih kunci dari segala kunci. Pokoknya kalo kita udah bisa ikhlas aja, udah plong rasanya. Ini juga ada seninya sih, gabisa langsung kita ikhlas2in padahal belum bisa ikhlas, pasti juga butuh waktu. Just know that, kalo kita udah niat untuk ikhlas, nanti pasti bakal ada waktunya kita bisa mencapai itu.
I don't know why I decided to write this. Mungkin mau menghilangkan unek-unek aja kali ya, since I really like writing, so my brain said "you go write yourself something! you know it helps!" and so I did.
Udah segini aja.
Comments
Post a Comment